Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Oktober 2010

Selamat Tinggal Da’wah!


Buat apa berda’wah jika hanya kepada “dia” kita memberi taushyiah? Buat apa berda’wah jika hanya kepadanya kita mengingatkan untuk shalat tahajud? Buat apa da’wah jika dihati kita hanya ada seorang mad’u? Buat apa da’wah jika hanya seorang yang membutuhkan kita? So, jika saat ini kita terserang Virus Merah Jambu, tidur saja di kamar. Bayangkan wajahnya! Buat puisi sebanyak-banyaknya tentang dia! Persetan dengan aktivitas rapat yang melelahkan! Persetan dengan rekruitmen kader yang menyita waktu dan tenaga! Mending pikirkan saja si dia. Penuhi kebutuhannya! Dan selamat! kamu akan sukses menjadi manusia yang egois!

Jangan pernah berkata DUNIA MEMBUTUHKAN SAYA! Jika kenyataanya, kita hanya memikirkan dia. Jangan pernah memikirkan ummat, jika dalam benak kita hanya berisi pertanyaan: apa makanan dan minuman kesukaannya? Apa warna kesukaannya? Siapa teman terdekatnya? Berapa ukuran sepatunya? Apa hobinya? Lewat mana dia kalau berangkat kuliah? Kemana dan kapan dia membeli kebutuhan bulanannya? Bahkan mencoba menghafalkan jadual kuliahnya!

Demikianlah dahsyatnya Virus Merah Jambu jika sudah menyerang kita. Kita tidak akan sempat memikirkan orang lain, karena dalam hati kita hanya ada seseorang. Kita akan tenggelam dalam lamunan demi lamunan yang membius seluruh aktivitas kita. Dan jika virus ini sudah sangat parah, kita pasti pingsan dibuatnya.

Untuk kamu para aktivis da’wah simaklah kata-kata mutiara di bawah ini yang saya dapatkan dari prayoga.net (sebagian telah saya edit).

Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi ‘alad diinik…
Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi ‘alad da’watik…

Love is a give (Cinta adalah berkah)…
Bahkan salah seorang Ikhwah mengatakan:
Love is the essence of life (Cinta adalah inti sari kehidupan)…
Cinta Allah yang membuat bumi ada…
Cinta Allah yang membuat sang surya bersinar…
Cinta antar manusia yang membuat hidup tenteram dan nyaman…
Ketika kita mencintai, tidak ada kata pamrih disana…
Yang ada hanya memberi tanpa mengharap menerima…

Mirip seperti itulah hakikat menjadi da’i…
Dia harus siap mengorbankan hidup dan matinya demi da’wah…
Dia selalu memberi untuk islam, tanpa mengharapkan menerima untuk setiap kerja da’wahnya…
Itulah ikhlas…
Siap menjadi jundi dan pada saat yang sama siap menjadi qiyadah…
Siap mengeluarkan uang untuk da’wah…
Siap mengeluarkan tenaga untuk da’wah…

Bahwa hubungan ikhwan dan akhwat aktivis da’wah adalah seperti saudara…
Cukup sampai disana…
Kalaupun terjadi gangguan hati yang  merupakan sunnatullah akibat adanya interaksi,
Tidak akan melebihi taraf SIMPATI antar kader
Kecuali Allah memberikan kesempatan padanya untuk menyelesaikan setengah agamanya…
Jika Allah telah menentukan jodoh untuk kita, bahkan sebelum kita lahir,
Mengapa kita takut menjadi perawan tua atau jejaka jomblo…?

Masih panjang langkah da’wah kita…
Masih begitu banyak lahan da’wah yang belum kita jamah…
Ada satu hal yang akan datang dengan sendirinya pada Kamu, yaitu jodoh…
Sehingga jangan sampai hal ini membuat kita ragu akan janji Allah pada kita…
Jangan sampai da’wah kita berpenyakit hanya karena masalah ini...

Sangat cengeng dan kekanak-kanakan,
Bila sampai ada aktivis da’wah yang terjangkiti hal ini (VMJ: Virus Merah Jambu)…
Da’wah adalah sesuatu yang suci…
Qod aflaha man zakkaha (Beruntunglah orang yang membersihkan diri)…
Wa qod khoba man dassaha (Dan celakalah orang yang mengotori dirinya)…
Sehingga orang yang berhak dan akan bertahan dalam jalan ini,
Adalah orang yang niat ikhlas membersihkan dirinya…

Dia ikut tarbiyah dengan keikhlasan,
Bukan karena ingin menikah dengan akhwat A atau B
Dia beraksi dan berdemonstrasi untuk menyuarakan yang haq di depan penguasa yang zholim…
Bukan ingin ketenaran…

Dia berda’wah ingin menuju Jannah-Nya,
Bukan ingin mendapatkan jabatan, fans atau lainnya…
Ingat ikhwan wa akhwat fillah,
Seperti disampaikan Ust. Amirudin:
Untuk ikhwan…
Bila kamu istiqomah di jalan da’wah ini,
Bidadari telah menanti kamu di syurga nanti…
Untuk akhwat…
Bila kamu istiqomah di jalan da’wah ini,
Kamu lebih baik dari bidadari yang terbaik yang ada di syurga…
Kebenaran hakiki hanya milik Allah…
Dan di yaumil qiyamah kelak akan ditentukan kebenaran akan hal-hal yang kita perdebatkan…

Insya Allah…




Quoted from:
“Apa kata Dunia, Jika Akhwat Jatuh Cinta?” By: Muhsin Suny M

Rabu, 07 Juli 2010

Riwayat Kerinduan

Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raj’a bin Amr An-Nakha’I, ia berkata, “Adalah di Kufah, terdapat seorang pemuda tampan, ia kuat beribadah dan sangat rajin. Suatu saat ia mampir berkunjung kekampung dari Bani An-Nakha’. Dia melihat seorang wanita cantik sehingga ia jatuh cinta dan kasmaran. Ternyata si wanita ini pun demikian juga. Karena sudah terlanjur jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang untuk melamarnya. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah berjodoh dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tidak bisa padam bahkan semakin berkobar.

Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, ‘Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku dirumahku.’ Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, ‘Aku tidak setuju dengan kedua alternatif itu, ... sesungguhnya aku takut kepada siksa hari yang besar, jika aku mendurhakai Tuhanku. (yunus: 15). Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata, ‘Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tidak ada orang yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu.’

Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu kepada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan rindu, sampai akhirnya dia meninggal karenanya. Dan pemuda itu sering kali berziarah ke kuburnya, dia menangis dan mendoakannya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburnya. Dia bermimpi bertemu dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, ‘Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?’

Dia menjawab, ‘Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat menggiring menuju kebaikan.’ Pemuda itu bertanya, ‘Jika demikian ke manakah kau menuju?’ Dia menjawab, ‘Aku sedang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak.’ Pemuda itu berkata, ‘Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.’ Dia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak akan melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah Swt.) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah.’ Si pemuda bertanya, ‘Kapan aku bisa melihatmu?’ Jawab si wanita: Tidak lama lagi kau akan datang melihat kami.’ Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadirat-Nya." 

World Clock