Tampilkan postingan dengan label Manfaat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manfaat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Oktober 2010

10 Pribadi Muslim

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Al-Qur'an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur'an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt. Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus lekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang erdasarkan Al-Qur'an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim. Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim.

1. Salimul Aqidah
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam' (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da'wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

2. Shahihul Ibadah
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: 'shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.' Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq
Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur'an, Allah berfirman yang artinya: 'Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung' (QS 68:4).

4. Qowiyyul Jismi
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: 'Mu'min yang kuat lebih aku cintai daripada mu'min yang lemah' (HR. Muslim).

5. Mutsaqqoful Fikri
Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur'an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: 'pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.' Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: 'Yang lebih dari keperluan.' Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

6. Mujahadatun Linafsihi
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada  diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

7. Harishun 'ala Waqtihi
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: 'Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.' Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syu'unihi
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

9. Qodirun 'alal Kasbi
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur'an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

10. Naafi'un Lighoirihi
Bermanfaat bagi orang lain (nafi'un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir). Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.

Quoted From: Drs. H. Ahmad Yani

Sabtu, 12 Desember 2009

Halaqoh: Sarana Transformasi Diri



Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Dahulu, saya kurang begitu mengerti dan paham apa yang dimaksud dengan halaqoh. Sampai pada akhirnya saya diperkenalkan dengan istilah tersebut  oleh kakak saya yang notabene adalah seorang aktivis dakwah kampus di salah satu universitas negeri di Jakarta. Berhubung kakak saya adalah seorang akhowat, sehingga proses halaqah pun tidak bisa di-handle secara langsung olehnya melainkan sengaja dipercayakan kepada temannya, Iwan Ridwan namanya. Ya, dialah murabbi pertama saya, seorang ustadz yang mengenalkan kepada saya apa itu halaqoh dan urgensinya. Sejak saat itulah, nuansa baru mulai terasa, sedikit-demi-sedikit mulai terasa berbeda, perbedaan menuju perbaikan tentunya. Hari-hari saya mulai terasa lebih berwarna dengan pancaran cahaya islam dan ketakwaan serta keimanan kepada Allah SWT dengan berbagai tausyiah dan pemahaman-pemahaman terkait keislaman dan ruang lingkupnya.

Saya mulai mengenal halaqoh sejak kelas 2 SMA, maklum disekolah saya memang tidak ada rohis karena background sekolah saya adalah sekolah islam alias Madrasah ‘Aliyyah sehingga tidak ada yang namanya mentoring ataupun sejenisnya. Dengan alasan semua materi keislaman sudah dipelajari dibeberapa mata pelajaran seperti Fiqh, Qur’an Hadits, Aqidah Akhlaq dan SKI (Sejarah Kebudayaan Islam). Selang beberapa tahun_kurang lebih 1,5 tahun_bersama bang Iwan_begitu saya memanggil beliau_banyak hal yang diajarkan dan menjadi pelajaran yang penting terkait halaqoh dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Karena menurut saya, halaqoh itu memang ilmu terapan bukan sekedar hafalan maupun pemahaman semata. Dari sini saya mulai membuka mata, hati dan bahkan fikiran, ternyata banyak sekali manfaat dari halaqoh itu sendiri. Mulai dari sarana silaturrahim, menimba ilmu bahkan sebagai sarana berbagi permasalahan diri. Alhamdulillah, manfaat ini dapat saya rasakan sampai saya kelas 3 dan bahkan proses halaqoh pun terus berlanjut hingga hampir menjelang kelulusan saya di SMA.

Fase-fase transisi dari SMA ketingkat Perguruan Tinggi mulai saya persiapkan, mulai dari persiapan menghadapi UAN sampai termasuk didalamnya ialah persiapan mengikuti berbagai macam tes masuk PTN. Berbagai macam ujian masuk saya ikuti, mulai dari SIMAK UI, UTUL UGM, BUD Depag ke ITB, PMDK UPI, PMDK UNJ dan terakhir USMI IPB. Tapi semuanya nihil, kecuali PMDK UNJ dan USMI IPB. Di UNJ sendiri ternyata ada tes lanjutan dari berkas-berkas calon mahasiswa yang lolos seleksi, sedangkan di IPB tidak. Akhirnya dengan pertimbangan matang saya putuskan untuk memilih IPB sebagai tempat transit saya untuk lebih dalam lagi menyelami samudera ilmu yang saya pilih selama beberapa tahun kedepan. Sejak saya tahu bahwa saya diterima di salah satu kampus terbaik negeri ini, yaitu IPB. Saya mulai mempersiapkan surat perpindahan halaqoh saya ke IPB atau sering disebut surat Mutasi itupun atas rekomendasi dari kaka kelas saya yang lebih dahulu melanjutkan studinya di IPB, ka Saiful Bahri namanya. Beliau adalah kakak kelas saya sewaktu di SMA, yang merupakan salah satu orang yang sedikit-banyak telah menginspirasi saya semasa disekolah. Ya, beliau adalah seorang siswa berprestasi dizamannya dengan segala keterbatasannya yang dimiliki. Seperti halnya pendatang baru di dunia yang baru, tentu pada awalnya saya tidak begitu mengerti apa itu surat Mutasi. Namun belakangan saya mulai mengerti ternyata surat itu merupakan surat “pindah tugas” saya sebagai calon kader dakwah dimasa yang akan datang. Berkat beliau pulalah saya dapat melanjutkan halaqoh ini sampai sekarang. Karena memang, yang namanya proses halaqoh itu tidak hanya sebagai program pendidikan karakter setahun dua tahun saja, tapi lebih dari itu. Karena yang namanya proses belajar dan mengajar, dididik dan mendidik itu merupakan kewajiban kita sebagai umat muslim dari sejak lahir sampai usia akhir.

Banyak manfaat halaqoh yang sudah saya rasakan. Baik dari segi pemikiran (Fikriyah) maupun kepribadian (Sakhsiyyah). Secara pemikiran, hal yang saya dapatkan diantaranya ialah meningkatnya tsaqofah islamiyah saya baik secara konvensional maupun kontemporal. Sedangkan dari segi kepribadian, yang saya dapatkan dari kegiatan halaqoh adalah terbentuknya suatu karakter kesolehan pribadi yang tercermin dari tutur kata, tingkah laku bahkan aktivitas-aktivitas kita sehari-hari yang sebisa mungkin didasarkan serta disesuaikan kepada syariat islam yang mengatur segala sendi kehidupan. Sehingga akan terbentuk suatu pola tingkah laku yang islami dan dapat memberikan teladan yang baik bagi diri sendiri, teman, keluarga, kerabat dan lebih luas lagi bagi lingkungan sekitar kita. Halaqoh bagi saya ibarat sebuah oase ditengah keringnya padang gurun keimanan. Oase iman diantara keringnya padang hedonisme yang membentang disetiap tempat sejauh mata memandang. Tentu semua itu hanyalah sebagai tolok ukur kemampuan kita dalam menyikapi dan memilah serta memilih mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang buruk untuk ditinggalkan.

Halaqoh bukan hanya semata-mata tempat pelarian saya dalam mencari perlindungan Allah dari segala godaan dan cobaan. Tapi lebih dari itu, disini saya dapat merasakan indahnya kebersaman, ukhuwah yang erat terjalin bersama kawan sesama ikhwan, ilmu dan pemahaman tentang keislaman serta tempat berbagi dan memecahkan segala permasalahan. Halaqoh yang saya temukan disini ibarat sebuah ‘Usrah atau keluarga. Ada fungsi saling menjaga, ada pula fungsi saling memiliki bahkan fungsi nasihat-menasihati. Fungsi menjaga tidak hanya sekedar menjaga sesama saudara dari segala mara bahaya, namun yang lebih mulia adalah menjaga aib sesama kita. Memiliki pun tidak hanya sekedar memiliki, saling melindungi menjadi kunci kuatnya rasa ini. Nasihat-menasihati menjadi sebuah habit yang sudah tertanam sejak diri ini mengenal halaqoh beserta urgensinya. Dari rasa inilah yang kemudian menjadi dasar atas kekuatan ukhuwah yang sudah terbina. Ibarat sebuah keluarga, disini saya dibina dan dididik untuk menjadi seorang muslim yang memiliki sakhsiyyah islamiyyah. Tanggungjawab sebagai sesama “keluarga” untuk saling menjaga dari “api neraka” menjadi tugas mulia dan utama, serta menjadi tantangan tersendiri dalam merajut dan memperkuat ikatan ukhuwah diantara kita. Sejauh ini, manfaat inilah yang saya rasakan dalam halaqoh. Pahit-manis ditanggung bersama, susah-senang dirasa bersama dan berat-ringan dipikul bersama. Itulah makna halaqoh yang saya dapat selama ini. Benar kata orang, 

“Tarbiyah (Halaqoh) bukanlah segala-galanya, tapi segala-galanya bisa bermula dari Tarbiyah.”

InsyaAllah..

Wallahua’lam bihsshowab.

World Clock